Jakarta, 4 September 2026 – Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok, Rusia, menghasilkan sejumlah agenda strategis yang diarahkan untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Rusia dalam jangka panjang. Kunjungan tersebut berlangsung dalam rangka menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11, dengan Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan utama atas undangan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan kedua pemimpin menjadi momentum untuk memperluas kerja sama yang selama ini tidak hanya berkembang pada hubungan politik, tetapi juga perdagangan, investasi, energi, pangan, industri, pendidikan, hingga teknologi. Prabowo menilai potensi hubungan ekonomi kedua negara masih jauh lebih besar dibandingkan capaian perdagangan saat ini. Indonesia karena itu menawarkan berbagai peluang investasi kepada Rusia sekaligus mendorong akses yang semakin luas bagi produk nasional menuju pasar Eurasia. Lawatan tersebut juga kembali menegaskan kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional.
Salah satu hasil penting yang didorong dalam kunjungan tersebut adalah percepatan implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia atau Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Prabowo berharap implementasi penuh perjanjian tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan perdagangan Indonesia dengan Rusia maupun negara anggota Uni Ekonomi Eurasia. Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia pada 2025 tercatat sekitar 5 miliar dolar AS atau tumbuh 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Presiden bahkan mengusulkan target untuk menggandakan nilai perdagangan kedua negara dalam periode pertama peninjauan pelaksanaan I-EAEU FTA. Dengan terbukanya akses perdagangan yang lebih luas, Indonesia dapat meningkatkan ekspor sejumlah komoditas seperti kelapa sawit, kopi, produk perikanan, karet, tekstil, dan berbagai barang konsumsi. Sebaliknya, Rusia memiliki kekuatan pada komoditas gandum, pupuk, energi, sains, serta teknologi yang dibutuhkan Indonesia.
Prabowo juga menawarkan posisi strategis Indonesia sebagai pintu masuk bagi pelaku usaha Rusia dan Eurasia menuju pasar ASEAN. Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara sekaligus menjadi bagian penting dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Posisi tersebut membuat investasi di Indonesia tidak hanya memberikan akses terhadap pasar domestik yang besar, tetapi juga membuka peluang menjangkau konsumen di kawasan yang lebih luas. Pemerintah ingin perusahaan Rusia tidak sekadar menjual produk ke Indonesia, melainkan membangun fasilitas produksi dan mengembangkan industri bersama di dalam negeri. Strategi tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi yang menempatkan penciptaan nilai tambah sebagai prioritas pembangunan ekonomi nasional. Kerja sama yang dibangun diharapkan dapat menghasilkan investasi, lapangan pekerjaan, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas industri Indonesia.
Sektor energi menjadi salah satu pembahasan utama selama lawatan Prabowo. Indonesia membuka kesempatan bagi perusahaan Rusia untuk berpartisipasi dalam pengembangan sektor minyak dan gas, termasuk melalui peluang investasi pada 138 blok eksplorasi energi. Pemerintah ingin memanfaatkan pengalaman dan teknologi Rusia untuk meningkatkan produktivitas eksplorasi, produksi, serta pengolahan migas di Indonesia. Selain energi fosil, peluang kerja sama juga diarahkan menuju energi baru dan terbarukan, jaringan listrik cerdas atau smart grid, serta pengembangan teknologi nuklir. Untuk pemanfaatan energi nuklir, Prabowo menekankan pentingnya standar keselamatan tertinggi dan pengamanan internasional. Diversifikasi sumber energi menjadi penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
Ketahanan pangan juga mendapat porsi besar dalam pembicaraan Indonesia dan Rusia. Prabowo menawarkan pengembangan kerja sama mulai dari teknologi pertanian, benih unggul, pembiakan ternak, mekanisasi, pengolahan makanan, hingga produksi pupuk bersama. Rusia selama ini merupakan salah satu produsen utama pupuk dan gandum dunia, sedangkan Indonesia mempunyai kebutuhan besar terhadap berbagai komoditas tersebut untuk menjaga produksi serta stabilitas pangan. Pemerintah ingin hubungan perdagangan berkembang menjadi kemitraan produksi sehingga Indonesia memperoleh manfaat lebih besar dari transfer teknologi dan pembangunan industri. Investasi pada produksi pupuk, termasuk urea, menjadi salah satu peluang yang mendapatkan perhatian dalam pembicaraan kedua negara. Kerja sama tersebut diharapkan mendukung agenda swasembada pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut diperkenalkan Prabowo dalam pidatonya di EEF ke-11 sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program tersebut dikaitkan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan karena kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar menciptakan permintaan yang dapat mendorong produksi pertanian domestik. Prabowo menjelaskan pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga harus memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat secara luas. Penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak dan kelompok sasaran menjadi salah satu bentuk investasi jangka panjang terhadap kualitas generasi mendatang. Pada saat bersamaan, peningkatan kebutuhan pangan dapat membuka kesempatan bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, dan pelaku usaha lokal untuk masuk ke rantai pasok program. Kerja sama internasional kemudian dapat digunakan untuk memperkuat teknologi dan produktivitas sektor pangan nasional.
Bidang industri juga menjadi salah satu fokus penting dalam lawatan tersebut. Prabowo mengajak perusahaan Rusia membangun industri bersama di Indonesia untuk menghasilkan berbagai produk yang digunakan masyarakat sehari-hari. Peluang yang ditawarkan mencakup pengolahan makanan, produk rumah tangga, pakaian, furnitur, farmasi, hingga elektronik konsumen. Pemerintah ingin investasi asing menghasilkan kegiatan produksi nyata dan tidak hanya berorientasi pada perdagangan produk jadi. Dengan populasi Indonesia yang besar dan akses menuju pasar ASEAN, pembangunan fasilitas produksi dapat memberikan keuntungan ekonomi kepada kedua negara. Indonesia mendapatkan investasi dan transfer teknologi, sementara perusahaan Rusia memperoleh basis produksi yang dekat dengan salah satu kawasan ekonomi paling dinamis di dunia.
Kerja sama di sektor transportasi dan perkapalan turut dibicarakan sebagai bagian dari peningkatan konektivitas kedua negara. Indonesia dan Rusia melihat peluang memperkuat jalur pelayaran langsung agar perdagangan dapat berlangsung lebih efisien. Konektivitas yang lebih baik berpotensi mengurangi waktu dan biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing produk yang diperdagangkan. Teknologi perkapalan Rusia juga menjadi salah satu bidang yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui kerja sama investasi. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan kemampuan industri maritim yang kuat untuk mendukung logistik domestik maupun perdagangan internasional. Pengembangan industri kapal di dalam negeri dapat memberikan nilai tambah apabila disertai transfer teknologi dan peningkatan kemampuan tenaga kerja nasional.
Selain sektor ekonomi konvensional, Prabowo membuka peluang kerja sama dengan Rusia dalam bidang pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan antariksa. Rusia memiliki pengalaman panjang dalam bidang rekayasa, teknologi nuklir, kedirgantaraan, dan ilmu dasar yang dapat dimanfaatkan melalui kerja sama penelitian maupun pengembangan sumber daya manusia. Indonesia membutuhkan semakin banyak tenaga ahli untuk mendukung industrialisasi dan transformasi teknologi dalam beberapa dekade mendatang. Kolaborasi perguruan tinggi, pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, serta pengembangan kemampuan teknis menjadi bagian yang dapat diperluas setelah pertemuan kedua negara. Kerja sama tersebut dinilai penting karena hubungan bilateral yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada perdagangan, tetapi juga pada pertukaran pengetahuan dan pengembangan kapasitas manusia.
Dalam aspek diplomasi, Prabowo menggunakan forum di Vladivostok untuk kembali menegaskan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Indonesia menentukan kebijakan berdasarkan kepentingan nasional sendiri sekaligus ingin berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas internasional. Pendekatan tersebut memungkinkan Indonesia membangun hubungan dengan berbagai negara tanpa harus terikat pada satu blok kekuatan tertentu. Kehadiran Prabowo sebagai tamu kehormatan utama EEF ke-11 juga memperlihatkan posisi Indonesia yang semakin diperhitungkan dalam hubungan ekonomi dengan kawasan Eurasia dan Asia Pasifik. Hubungan Indonesia-Rusia memiliki sejarah panjang sejak masa awal kemerdekaan dan kini diarahkan menuju kemitraan yang semakin berorientasi pada investasi serta pembangunan ekonomi. Pemerintah melihat hubungan historis tersebut sebagai modal untuk membangun kerja sama yang lebih konkret.
Lawatan Presiden Prabowo ke Rusia pada akhirnya menghasilkan dorongan baru bagi hubungan Indonesia-Rusia di berbagai sektor strategis. Percepatan I-EAEU FTA, target menggandakan perdagangan, peluang investasi pada 138 blok energi, produksi pupuk, pengembangan industri, teknologi perkapalan, ketahanan pangan, pendidikan, hingga antariksa menjadi bagian dari agenda yang dibawa dalam pertemuan di Vladivostok. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan berbagai pembicaraan tersebut menjadi investasi dan proyek konkret yang memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia. Pemerintah juga perlu memastikan setiap kerja sama menghasilkan nilai tambah, transfer teknologi, lapangan pekerjaan, serta penguatan kapasitas industri nasional. Dengan pasar domestik yang besar dan posisi strategis di ASEAN, Indonesia menawarkan dirinya sebagai mitra sekaligus basis produksi bagi perusahaan Rusia yang ingin memperluas bisnis di Indo-Pasifik. Hasil lawatan tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk membawa hubungan kedua negara dari perdagangan konvensional menuju kemitraan ekonomi dan investasi yang lebih dalam.