Jakarta, 4 Oktober 2026 – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai wisata olahraga atau sports tourism di Indonesia memiliki potensi menjanjikan untuk terus dikembangkan sebagai salah satu penggerak sektor pariwisata. Menurut dia, peluang tersebut semakin terbuka seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin dekat dengan aktivitas olahraga dan kebugaran. Indonesia juga memiliki kekayaan destinasi serta infrastruktur pendukung yang dapat dipadukan dengan penyelenggaraan berbagai ajang olahraga.
Secara global, wisata olahraga telah berkembang menjadi segmen penting dalam industri pariwisata. Data UN Tourism yang dikutip Kementerian Pariwisata menunjukkan sports tourism menyumbang sekitar 10 persen dari total belanja wisata global dan diproyeksikan tumbuh 17,5 persen hingga 2030. Survei Expedia juga mencatat 44 persen wisatawan bersedia bepergian ke luar negeri untuk menghadiri hiburan olahraga, dengan rata-rata pengeluaran mencapai 1.500 dolar AS per perjalanan.
Widiyanti menyampaikan pandangan tersebut dalam rangkaian peluncuran buku mengenai dampak MotoGP Mandalika 2025 sekaligus dimulainya penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional. Pemerintah memandang desain besar tersebut dapat menjadi fondasi untuk memperkuat posisi wisata olahraga sebagai salah satu motor pertumbuhan pariwisata. Sinergi lintas sektor diperlukan agar penyelenggaraan kegiatan olahraga tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi destinasi.
Sejumlah ajang internasional yang diselenggarakan di Indonesia menunjukkan besarnya peluang tersebut. MotoGP Mandalika 2025 diperkirakan memberikan dampak ekonomi sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun. Sementara HYROX Jakarta yang berlangsung pada Juni 2026 diikuti sekitar 11.500 peserta dan disebut menjadi penyelenggaraan HYROX dengan jumlah peserta terbesar di kawasan Asia Pasifik, dengan sekitar 15 persen peserta berasal dari luar negeri.
Selain ajang berskala internasional, Indonesia memiliki berbagai kegiatan olahraga yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata daerah. Ajang lari, bersepeda, triathlon hingga kegiatan olahraga berbasis destinasi dapat dikombinasikan dengan keindahan alam, budaya, kuliner, serta produk ekonomi kreatif setempat. Pola tersebut diharapkan membuat pengeluaran peserta dan penonton memberikan efek ekonomi yang lebih luas kepada hotel, restoran, transportasi, UMKM, dan masyarakat sekitar.
Meski memiliki peluang besar, pengembangan wisata olahraga masih menghadapi sejumlah tantangan. Pemerintah menyoroti pentingnya pemerataan penyelenggaraan kegiatan ke berbagai daerah, kesiapan daya dukung destinasi, keberlanjutan kunjungan wisatawan di luar periode acara, serta standardisasi layanan dan profesionalisme penyelenggara. Pemerintah daerah juga didorong merancang kegiatan olahraga berdasarkan karakter dan keunikan wilayah masing-masing sehingga tidak sekadar meniru format yang telah berhasil di daerah lain.
Kementerian Pariwisata berharap kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, komunitas olahraga, dan pelaku industri dapat memperkuat ekosistem wisata olahraga nasional. Penyelenggaraan kegiatan yang konsisten dan berkualitas dinilai dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan belanja di destinasi. Dengan potensi alam, fasilitas olahraga, serta pasar domestik yang besar, wisata olahraga diharapkan berkembang menjadi salah satu sektor yang memperkuat daya saing pariwisata Indonesia.