Bandarlampung, 6 September 2026 – Sebanyak 22 penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Radin Inten II, Lampung, dibatalkan pada Minggu akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Pembatalan dilakukan setelah material vulkanik terdeteksi memengaruhi ruang udara yang dilalui jalur penerbangan serta operasional bandara. General Manager Bandara Internasional Radin Inten II Kiki Eprina Arieanti mengatakan langkah tersebut diambil untuk menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat. Jumlah penerbangan yang dibatalkan terus bertambah dibandingkan laporan pada Minggu pagi karena kondisi abu vulkanik masih berkembang. Operasional penerbangan harus menyesuaikan hasil pemantauan dan pemberitahuan resmi keselamatan penerbangan. Penumpang yang memiliki jadwal perjalanan diminta terus memeriksa informasi terbaru dari maskapai masing-masing.
Pembatalan 22 penerbangan tersebut merupakan perkembangan terbaru setelah pada pagi hari jumlah penerbangan terdampak masih lebih sedikit. Manajemen bandara sebelumnya mencatat enam penerbangan mengalami penyesuaian maupun pembatalan, kemudian jumlahnya meningkat menjadi 16 penerbangan pada pembaruan berikutnya. Kondisi terus berubah seiring evaluasi terhadap keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan. Pada pembaruan siang hari, jumlah penerbangan yang akhirnya harus dibatalkan mencapai 22 perjalanan. Perubahan tersebut menunjukkan keputusan operasional dilakukan secara dinamis berdasarkan kondisi keselamatan terkini. Maskapai dan pengelola bandara harus menyesuaikan jadwal apabila material vulkanik masih berpotensi mengganggu penerbangan.
Pembatalan terbaru dilakukan berdasarkan NOTAM Nomor B1126/26 NOTAMR B1125/26 yang berlaku hingga pukul 18.00 WIB pada Minggu. Pemberitahuan tersebut menjadi dasar penting bagi pelaku penerbangan dalam melakukan penyesuaian terhadap operasional di Bandara Radin Inten II. Selama periode tersebut, aktivitas penerbangan harus mengikuti pembatasan yang ditetapkan demi menghindari risiko akibat abu vulkanik. Keputusan dapat kembali berubah apabila hasil evaluasi menunjukkan kondisi ruang udara telah membaik atau justru masih membutuhkan pembatasan lebih lanjut. Pengelola bandara terus berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait dalam menentukan langkah operasional berikutnya. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dibandingkan upaya mempertahankan jadwal keberangkatan dan kedatangan.
Gangguan di Radin Inten II sebenarnya telah terlihat sejak Sabtu ketika sejumlah penerbangan dari dan menuju Lampung mulai dibatalkan. Pada periode awal tersebut, penerbangan TransNusa rute Jakarta menuju Lampung dan Lampung menuju Jakarta termasuk yang terkena pembatalan. Penerbangan Lion Air dari Jakarta menuju Lampung juga mengalami kondisi serupa. Memasuki Minggu, dampaknya semakin meluas sehingga penerbangan Garuda Indonesia dan Citilink termasuk yang mengalami penundaan pada pembaruan pagi. Perkembangan aktivitas Anak Krakatau dan penyebaran material vulkanik kemudian membuat penyesuaian operasional semakin besar. Situasi itu akhirnya berujung pada pembatalan puluhan penerbangan sepanjang Minggu.
Pemantauan cuaca penerbangan di Radin Inten II pada Minggu dini hari hingga pagi juga menunjukkan keberadaan abu vulkanik. Data pengamatan mencatat kondisi berdebu vulkanik dengan jarak pandang yang berubah-ubah sepanjang periode tersebut. Pada beberapa pengamatan pagi, jarak pandang sempat berada di kisaran tiga kilometer sebelum kembali meningkat menjadi sekitar delapan kilometer. Kondisi semacam itu menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan operasional penerbangan. Pengamatan visual saja tidak cukup karena abu dapat berada pada berbagai lapisan ketinggian dan bergerak mengikuti dinamika atmosfer. Karena itu, informasi meteorologi penerbangan terus diperbarui untuk mendukung keputusan keselamatan.
BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap sebaran abu Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer maupun penerbangan. Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pukul 08.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik yang menjangkau kawasan cukup luas. Abu pada ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Sementara abu pada ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki bergerak ke barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia. BMKG telah menerbitkan puluhan informasi SIGMET sebagai peringatan keselamatan navigasi udara sejak erupsi berlangsung. Informasi tersebut terus diperbarui mengikuti perkembangan pergerakan material vulkanik.
Bandara Radin Inten II bukan satu-satunya fasilitas penerbangan yang mengalami gangguan akibat aktivitas Anak Krakatau. Pada pembaruan Minggu pagi, penutupan sementara juga diberlakukan terhadap Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Budiarto Curug. Radin Inten II pada tahap tersebut tercatat ditutup sementara mulai pukul 04.18 hingga 10.00 WIB sebelum pembatasan operasional mengalami perkembangan lebih lanjut. Gangguan pada beberapa bandara secara bersamaan membuat dampaknya menjalar ke jaringan penerbangan nasional karena rotasi pesawat dan awak saling terhubung. Penerbangan yang tidak dapat berangkat dari Jakarta, misalnya, dapat menyebabkan jadwal keberangkatan berikutnya dari Lampung ikut terganggu. Situasi tersebut membuat pemulihan penerbangan membutuhkan koordinasi antarpengelola bandara dan maskapai.
Manajemen Bandara Radin Inten II memastikan koordinasi dengan maskapai dan instansi terkait terus dilakukan untuk menangani penumpang terdampak. Informasi keberangkatan dan kedatangan diperbarui secara berkala agar masyarakat mendapatkan kepastian mengenai perjalanan mereka. Calon penumpang disarankan tidak hanya berpatokan pada jadwal yang tertera pada tiket karena perubahan masih dapat terjadi dalam waktu relatif singkat. Mereka perlu memastikan status penerbangan melalui maskapai sebelum menuju bandara, terutama selama abu Anak Krakatau masih memengaruhi ruang udara. Penanganan penumpang juga menjadi perhatian karena pembatalan dan penundaan dapat memengaruhi perjalanan lanjutan maupun agenda masyarakat. Koordinasi yang cepat diperlukan agar perubahan jadwal dapat disampaikan sebelum menimbulkan penumpukan penumpang di terminal.
Abu vulkanik merupakan salah satu ancaman serius terhadap keselamatan penerbangan sehingga pembatalan tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi cuaca yang terlihat dari permukaan. Partikel vulkanik dapat berada di jalur pesawat dan berpotensi mengganggu berbagai komponen ketika terhisap ke dalam mesin. Material tersebut juga dapat mengurangi visibilitas serta menimbulkan gangguan pada bagian pesawat selama penerbangan. Karena itu, keputusan menutup atau membatasi operasional bandara melibatkan koordinasi antara otoritas bandar udara, BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, dan pihak terkait lainnya. NOTAM kemudian digunakan untuk menyampaikan perubahan kondisi operasional secara resmi kepada seluruh pelaku penerbangan. Langkah tersebut memastikan keputusan yang diambil memiliki dasar keselamatan yang sama bagi maskapai yang beroperasi.
Dengan bertambahnya pembatalan menjadi 22 penerbangan, masyarakat yang hendak menggunakan Bandara Radin Inten II diminta tetap memperhatikan perkembangan terbaru sepanjang Minggu. Jumlah penerbangan terdampak masih dapat berubah apabila sebaran abu mengalami pergeseran atau pembatasan operasional kembali diperpanjang. Pengelola bandara akan terus melakukan evaluasi bersama seluruh pemangku kepentingan sebelum aktivitas penerbangan dapat kembali berjalan normal. Penumpang juga diharapkan memahami bahwa pembatalan dilakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap risiko yang tidak dapat diabaikan dalam keselamatan penerbangan. Pemulihan jadwal nantinya dapat berlangsung secara bertahap karena maskapai harus mengatur kembali rotasi pesawat dan awak yang sebelumnya terganggu. Operasional secara penuh baru dapat dilakukan setelah kondisi ruang udara dan kawasan bandara dinilai aman dari dampak abu vulkanik Anak Krakatau.