Jakarta, 16 September 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bergerak menguat meskipun pasar keuangan dibayangi sentimen negatif dari Amerika Serikat. Pada perdagangan Kamis, IHSG pada akhir sesi pertama tercatat naik 0,42 persen ke level 6.463,61. Indeks sempat bergerak pada kisaran terendah 6.418 dan mencapai posisi tertinggi sekitar 6.500. Penguatan tersebut terjadi setelah pasar merespons keputusan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang menaikkan suku bunga acuannya. Kebijakan tersebut meningkatkan tekanan terhadap aset negara berkembang karena dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika bergerak menguat. Meski demikian, aksi beli pada sejumlah saham berkapitalisasi besar mampu menopang pergerakan indeks domestik.
Aktivitas perdagangan saham tercatat cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp7,88 triliun pada akhir sesi pertama. Volume perdagangan mencapai sekitar 16,90 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,12 juta kali. Sebanyak 374 saham bergerak menguat, sementara 234 saham melemah dan 178 saham tidak mengalami perubahan harga. Komposisi tersebut memperlihatkan jumlah saham yang menguat masih lebih banyak dibandingkan saham yang terkoreksi. Mayoritas sektor perdagangan juga berada di zona positif. Sektor energi, konsumer, dan finansial menjadi beberapa kelompok saham yang memberikan dukungan terhadap indeks.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi penopang penguatan IHSG. Saham perbankan seperti BMRI dan BBRI memberikan kontribusi terhadap pergerakan indeks, bersama saham BYAN, DSSA, dan CUAN. Kinerja saham-saham tersebut membantu menahan tekanan yang muncul dari sejumlah sektor lain. Sektor kesehatan, properti, dan barang baku masih mengalami pelemahan pada perdagangan tersebut. Kondisi ini memperlihatkan pergerakan pasar belum sepenuhnya merata. Investor masih melakukan seleksi terhadap saham dengan mempertimbangkan perubahan kondisi ekonomi global dan prospek masing-masing sektor.
Penguatan IHSG terjadi setelah indeks mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu, 16 September 2026, IHSG ditutup melemah 0,38 persen ke posisi 6.436,85. Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan yang terjadi selama beberapa perdagangan sebelumnya. Pergerakan indeks kemudian berbalik positif pada perdagangan berikutnya meskipun sentimen eksternal belum sepenuhnya mendukung. Investor tampaknya memanfaatkan pelemahan sejumlah saham untuk melakukan pembelian secara selektif. Namun, volatilitas masih berpotensi tinggi karena pasar terus menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global.
Sentimen utama dari Amerika Serikat berasal dari keputusan Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75 hingga 4 persen. Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena merupakan kenaikan pertama setelah periode panjang tanpa peningkatan suku bunga. Sejumlah pejabat The Fed juga memperkirakan masih terbuka kemungkinan kenaikan tambahan hingga akhir tahun. Sikap tersebut menunjukkan bank sentral AS masih memberikan perhatian besar terhadap tekanan inflasi. Ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap pasar saham dan mata uang negara berkembang.
Reaksi pasar terlihat dari penguatan indeks dolar AS yang bergerak menuju level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga menembus sekitar 5 persen. Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan daya tarik surat utang Amerika dibandingkan aset yang memiliki risiko lebih tinggi. Investor global dapat melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi sebagian kepemilikan aset negara berkembang. Indonesia termasuk pasar yang berpotensi terkena dampak apabila arus modal keluar meningkat. Pergerakan rupiah karena itu menjadi salah satu indikator yang terus diperhatikan investor domestik.
Tekanan tambahan berasal dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu distribusi energi dunia. Ketegangan di sekitar jalur perdagangan strategis meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan pergerakan harga energi. Harga minyak yang bertahan tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi global serta meningkatkan biaya impor bagi negara konsumen energi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi neraca perdagangan, nilai tukar, dan kebijakan moneter Indonesia. Investor juga mempertimbangkan dampaknya terhadap perusahaan yang sensitif terhadap perubahan harga energi. Sebaliknya, sejumlah saham berbasis komoditas dapat memperoleh perhatian ketika harga energi meningkat.
Pergerakan IHSG berikutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan kebijakan The Fed, nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta arus dana investor asing. Pelaku pasar juga akan mencermati berbagai data ekonomi Amerika Serikat untuk menilai kemungkinan perubahan suku bunga selanjutnya. Dari dalam negeri, kondisi fundamental perusahaan dan kebijakan ekonomi pemerintah tetap menjadi perhatian investor. Penguatan 0,42 persen menunjukkan pasar saham Indonesia masih mampu bertahan di tengah tekanan sentimen eksternal. Namun, volatilitas berpotensi tetap tinggi selama ketidakpastian mengenai arah suku bunga dan kondisi geopolitik belum mereda. Investor diperkirakan tetap selektif dalam menentukan saham di tengah perubahan kondisi pasar global.