Pandeglang, 19 September 2026 – Muhammad Bagus Khoirunas dikenal sebagai pewarta foto yang memiliki dedikasi tinggi, keberanian di lapangan, serta karakter visual yang kuat dalam setiap karya jurnalistiknya. Bagus memulai perjalanan sebagai jurnalis foto di usia sekitar 20 tahun dan menjalani proses pembentukan di lingkungan redaksi ANTARA FOTO. Karya pertamanya yang tercatat berjudul “Digitalisasi Ekonomi Pedesaan”, yang mengabadikan aktivitas perajin dompet di Warunggunung, Lebak, Banten, dan dipublikasikan pada Desember 2018. Sejak saat itu, Bagus terus mengembangkan kemampuan sekaligus memperluas wilayah peliputannya, khususnya di Provinsi Banten. Ia dikenal bukan sebagai pewarta yang sekadar menunggu penugasan, tetapi aktif mencari dan mengusulkan berbagai agenda peliputan. Etos kerja tersebut membuat sosok Bagus mendapatkan tempat tersendiri di lingkungan redaksi maupun kalangan pewarta foto.
Koordinator Daerah ANTARA FOTO, Sigit, mengenang Bagus sebagai salah satu pewarta daerah dengan daya jelajah yang kuat. Kemampuannya memahami wilayah Banten membuat Bagus sering menjadi andalan ketika redaksi membutuhkan dokumentasi visual mengenai berbagai peristiwa maupun kehidupan masyarakat setempat. Salah satu kekuatan yang melekat pada karyanya adalah dokumentasi mengenai masyarakat adat Baduy. Para editor bahkan disebut dapat mengenali karakter karya Bagus melalui cara dirinya menentukan sudut pandang tanpa terlebih dahulu melihat kredit foto. Selain kemampuan teknis, ia memiliki kepekaan dalam menangkap sisi manusia dari sebuah peristiwa. Kombinasi kemampuan tersebut membuat karya-karyanya memiliki identitas yang berkembang seiring perjalanan kariernya.
Kemampuan Bagus mendapatkan pengakuan melalui berbagai penghargaan fotografi jurnalistik. Salah satu pencapaian penting diraihnya dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2025 yang berlangsung di Loji Gandrung, Solo, Jawa Tengah. Bagus menjadi pemenang kategori Essay General News melalui karya bertajuk “Pesta Demokrasi dengan Balutan Tradisi Badui”. Untuk menghasilkan rangkaian foto tersebut, ia mengikuti proses Pemilu 2024 di pedalaman Baduy selama empat hari. Peliputannya mencakup proses distribusi kebutuhan pemilu, persiapan hingga pelaksanaan pemungutan suara di tengah masyarakat adat. Karya tersebut memperlihatkan bagaimana peristiwa politik nasional dapat diceritakan melalui kehidupan dan tradisi masyarakat lokal. Penghargaan itu semakin memperkuat reputasi Bagus di lingkungan fotografi jurnalistik Indonesia.
Keberanian Bagus ketika melakukan peliputan juga menjadi bagian yang banyak dikenang rekan-rekannya. Audindra, jurnalis yang bersahabat dengannya selama sekitar tiga tahun, menggambarkan Bagus sebagai sosok yang tidak suka menunda pekerjaan ketika sebuah peristiwa terjadi. Ketika mendapatkan informasi mengenai banjir, bencana atau bangunan sekolah yang roboh, Bagus dapat segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan dokumentasi. Dalam salah satu peliputan banjir di Desa Songgom Jaya, Cikande, Serang, ia bahkan masuk langsung ke kawasan terdampak untuk mendapatkan sudut pengambilan gambar yang dinilainya mampu menyampaikan situasi secara lebih kuat. Keberanian tersebut berjalan bersama tuntutan profesional untuk tetap menghasilkan foto dengan nilai informasi dan kemanusiaan. Tidak jarang hasil bidikannya sudah beredar melalui berbagai kanal berita sebelum rekan-rekannya mengetahui bahwa ia telah berada di lokasi kejadian.
Di luar pekerjaannya sebagai fotografer, Bagus dikenang memiliki kepribadian hangat dan mudah bergaul. Ia dapat berinteraksi dengan rekan dari berbagai generasi dan dikenal mampu mencairkan suasana ketika berkumpul bersama sesama jurnalis. Dunia otomotif menjadi salah satu minat lain yang dikuasainya sehingga rekan-rekannya kerap meminta pendapat mengenai mesin kendaraan, bengkel hingga suku cadang. Bagus juga senang memainkan gitar dan membagikan aktivitas tersebut melalui media sosial. Kelakar yang kerap dilontarkannya membuat suasana di tempat berkumpul maupun media center menjadi lebih hidup. Sisi personal inilah yang membuat keberadaan Bagus tidak hanya dikenang melalui karya fotografi, tetapi juga melalui hubungan yang dibangunnya dengan orang-orang di sekitarnya.
Perjalanan tugas Bagus kemudian memasuki situasi berat ketika ia berangkat meliput peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026. Bagus bertolak dari Dermaga Pagedongan di Kecamatan Carita, Pandeglang, bersama tujuh orang lainnya menggunakan kapal cepat KM Arupadhatu I. Dalam rombongan tersebut terdapat empat pewarta foto lainnya, yakni Arie Basuki, Donal Husni, Yudhistira, dan Firdaus, serta dua kru kapal dan seorang pemandu. Mereka menuju kawasan perairan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan peliputan mengenai aktivitas vulkanik. Kapal kemudian dilaporkan kehilangan kontak sehingga operasi pencarian dan pertolongan dilakukan oleh tim SAR gabungan. Posisi terakhir kapal tercatat berada di kawasan antara Pulau Rakata dan Pulau Sertung.
Operasi pencarian berlangsung selama 10 hari dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI Angkatan Laut, kepolisian dan masyarakat nelayan. Armada laut, unsur udara serta perangkat pencarian dikerahkan untuk menyisir kawasan yang sangat luas di sekitar Selat Sunda hingga perairan yang mengarah ke Samudra Hindia. Luas area pencarian secara keseluruhan mencapai ribuan mil laut persegi. Setelah berbagai upaya belum menghasilkan penemuan rombongan tersebut, operasi SAR aktif akhirnya ditutup pada hari ke-10 sesuai pertimbangan dan prosedur pencarian. Meski operasi aktif telah berakhir, Pemerintah Provinsi Banten menyatakan pemantauan di kawasan Selat Sunda tetap dilakukan dan setiap informasi baru akan disampaikan kepada keluarga. Pihak ANTARA juga menyatakan akan terus memberikan pendampingan dan dukungan kepada keluarga Bagus setelah berakhirnya operasi pencarian.
Suasana haru menyelimuti doa bersama yang digelar di Posko SAR Utama Dermaga Carita pada 17 September. Keluarga, sahabat, rekan jurnalis, pejabat pemerintah, tim SAR serta masyarakat berkumpul memberikan dukungan kepada keluarga delapan orang yang belum ditemukan. Di tengah situasi tersebut, kenangan mengenai Bagus terus muncul dari orang-orang yang pernah bekerja maupun menghabiskan waktu bersamanya. Direktur Pemberitaan ANTARA Virgandhi Prayudantoro menyampaikan penghargaan terhadap dedikasi, kerja keras dan kontribusi Bagus selama menjalankan profesinya. ANTARA juga mengapresiasi berbagai pihak yang terlibat dalam operasi pencarian dan menyatakan tetap mendampingi keluarga dalam menghadapi situasi tersebut. Solidaritas yang muncul menunjukkan kuatnya hubungan di antara insan pers ketika salah seorang rekan mereka menghadapi risiko dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Bagi rekan-rekannya, Bagus Khoirunas meninggalkan jejak melalui foto-foto yang merekam berbagai sisi kehidupan masyarakat sekaligus melalui kepribadiannya yang hangat. Penghargaan yang pernah diraihnya menjadi salah satu catatan atas kemampuan profesional yang dibangun sejak awal karier, tetapi kenangan terhadap dirinya tidak berhenti pada prestasi tersebut. Keberanian memasuki lokasi sulit, kecepatan merespons sebuah peristiwa, kepedulian terhadap sesama serta kebiasaannya mencairkan suasana menjadi bagian dari sosok yang dirindukan lingkungan kerjanya. Hingga operasi SAR aktif berakhir, keluarga dan rekan-rekan Bagus masih menantikan kabar mengenai keberadaannya. Dukungan terhadap keluarga juga terus disampaikan dari berbagai pihak, termasuk institusi tempatnya bekerja dan komunitas jurnalistik. Di tengah ketidakpastian tersebut, karya dan dedikasi Bagus tetap menjadi bagian dari perjalanan fotografi jurnalistik yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.