Jakarta, 24 September 2026 – Bank Pembangunan Asia (ADB) memperingatkan eskalasi konflik geopolitik dan fenomena El Nino yang sangat kuat menjadi ancaman utama bagi perekonomian negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik. Dalam Asian Development Outlook (ADO) September 2026, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan akan melambat dari 5,5 persen pada 2025 menjadi 5 persen pada 2026. Pertumbuhan kemudian diproyeksikan meningkat tipis menjadi 5,1 persen pada 2027. Proyeksi pertumbuhan tahun ini naik 0,1 poin persentase dibandingkan perkiraan ADB pada Juli.
Meski proyeksi pertumbuhan sedikit dinaikkan, ADB menilai risiko terhadap perekonomian kawasan semakin besar. Investasi yang kuat, stimulus pemerintah, serta ekspor teknologi yang didorong siklus investasi kecerdasan buatan menjadi sejumlah faktor yang menopang aktivitas ekonomi. Namun, ketegangan geopolitik dan kondisi cuaca ekstrem berpotensi menekan momentum pertumbuhan tersebut. Presiden ADB Masato Kanda menyatakan kawasan masih menunjukkan ketahanan, tetapi pemerintah perlu bersiap menghadapi risiko yang meningkat.
Salah satu risiko terbesar berasal dari konflik di Timur Tengah yang dapat mempertahankan harga energi global pada tingkat tinggi dan bergejolak. ADB juga menyoroti meningkatnya intensitas perang Rusia-Ukraina yang berpotensi mengganggu perdagangan komoditas dan rantai pasok. Gangguan terhadap pasokan minyak mentah, produk olahan minyak, serta komoditas pangan dapat meningkatkan biaya bagi negara-negara yang bergantung pada impor. Kondisi tersebut selanjutnya dapat menekan konsumsi masyarakat dan aktivitas dunia usaha.
Selain konflik, El Nino yang sangat kuat diperkirakan berlangsung hingga kuartal pertama 2027. Fenomena tersebut berpotensi menciptakan kondisi lebih kering di sejumlah negara sehingga produksi pertanian dapat menurun. Berkurangnya curah hujan juga dapat menekan produksi listrik tenaga air dan meningkatkan kebutuhan terhadap sumber energi lainnya. Kombinasi penurunan produksi pangan dan meningkatnya kebutuhan energi berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar maupun pangan.
Sektor pertanian diperkirakan menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak El Nino. Curah hujan yang lebih rendah dapat mengurangi produktivitas tanaman, sementara suhu tinggi juga dapat memengaruhi peternakan melalui tekanan panas dan berkurangnya ketersediaan pakan. Kondisi laut yang lebih hangat turut berpotensi memengaruhi sektor perikanan dan akuakultur. Risiko tersebut menjadi perhatian karena sejumlah negara Asia merupakan produsen sekaligus eksportir utama komoditas pangan dunia.
ADB memperkirakan inflasi negara berkembang Asia dan Pasifik berada di kisaran 4,2 persen pada 2026. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan Juli sebesar 4,3 persen karena berbagai langkah stabilisasi harga membantu meredam sebagian tekanan dari tingginya harga energi. Namun, proyeksi inflasi 2027 dinaikkan dari 3,4 persen menjadi 3,5 persen. Kedua angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan inflasi kawasan sebesar 3 persen pada 2025.
Tekanan harga energi menjadi perhatian karena dampaknya dapat menyebar ke berbagai sektor ekonomi. Kenaikan harga minyak dan gas dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, pupuk, serta distribusi barang. Negara dengan porsi pengeluaran pangan yang besar dalam konsumsi rumah tangga berpotensi merasakan dampak lebih kuat apabila kenaikan harga energi terjadi bersamaan dengan gangguan produksi pertanian. Situasi tersebut membuat kelompok masyarakat berpendapatan rendah menjadi lebih rentan terhadap tekanan biaya hidup.
Di tengah berbagai risiko tersebut, prospek pertumbuhan Asia Tenggara masih menunjukkan ketahanan. ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Tenggara menjadi 4,7 persen pada 2026 dan 4,9 persen pada 2027. Beberapa negara mendapatkan revisi pertumbuhan lebih tinggi karena dukungan investasi, permintaan domestik, dan aktivitas ekspor. Namun, risiko harga energi, gangguan pertanian, serta ketidakpastian perdagangan global tetap dapat memengaruhi kinerja ekonomi kawasan.
ADB juga mengidentifikasi risiko lain berupa kemungkinan koreksi tajam valuasi saham terkait kecerdasan buatan, pengetatan kondisi keuangan global, serta kembali meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan. Jika konflik geopolitik semakin luas atau dampak El Nino lebih buruk dibandingkan perkiraan, pertumbuhan dapat melemah sementara inflasi meningkat. Kepala Ekonom ADB Albert Park menyatakan risiko terhadap prospek ekonomi masih cenderung mengarah ke sisi negatif. Kondisi tersebut membuat kebijakan fiskal dan moneter perlu mempertimbangkan keseimbangan antara menjaga pertumbuhan dan mengendalikan tekanan harga.
ADB mendorong pemerintah di kawasan Asia dan Pasifik mempersiapkan langkah mitigasi sekaligus memperkuat perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan. Kebijakan stabilisasi pangan dan energi, penguatan ketahanan pertanian, serta perlindungan sosial menjadi semakin penting apabila El Nino dan konflik berkepanjangan terus memberikan tekanan. Pemerintah juga perlu memperhatikan risiko di pasar keuangan yang dapat meningkatkan biaya pembiayaan dan mempersempit ruang fiskal. Meski ekonomi Asia-Pasifik masih menunjukkan daya tahan, perkembangan konflik global dan El Nino akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pertumbuhan hingga 2027.