Jakarta, 2 Oktober 2026 – Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir mengungkap cerita di balik penunjukannya menggantikan Sugiono. Diplomat yang akrab disapa Tata itu mengaku baru mengetahui dirinya akan dilantik pada Kamis (1/10) siang, hanya beberapa jam sebelum prosesi berlangsung. Informasi tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon. Arrmanatha kemudian diminta datang ke Istana Kepresidenan sekitar pukul 12.30 WIB.
Menariknya, ketika menerima pemberitahuan dari Teddy, Arrmanatha sedang berada bersama Sugiono di kantor Kementerian Luar Negeri. Sugiono pada saat itu masih menjabat Menteri Luar Negeri sebelum kemudian mendapat penugasan baru dalam Kabinet Merah Putih. Situasi tersebut membuat proses pergantian kepemimpinan di kementerian berlangsung dalam waktu relatif singkat. Arrmanatha menyebut pemberitahuan mengenai tugas barunya memang diterima tidak lama sebelum dirinya harus menuju Istana.
Arrmanatha kemudian hadir di Istana Negara untuk mengikuti prosesi pelantikan bersama sejumlah pejabat lainnya. Presiden Prabowo Subianto memimpin pengucapan sumpah jabatan sebelum Arrmanatha resmi menjalankan tugas sebagai Menteri Luar Negeri. Sebelumnya, ia merupakan Wakil Menteri Luar Negeri sehingga telah terlibat langsung dalam berbagai agenda diplomasi pemerintah. Pengalaman tersebut membuat Arrmanatha tidak asing dengan kebijakan dan program yang sedang berjalan di Kementerian Luar Negeri.
Setelah dilantik, Arrmanatha menegaskan akan melanjutkan berbagai kebijakan yang sebelumnya dijalankan Sugiono. Politik luar negeri Indonesia tetap berpedoman pada prinsip bebas aktif dengan kepentingan nasional sebagai salah satu landasan utama. Ia juga menempatkan agenda yang berkaitan dengan Asta Cita sebagai bagian dari prioritas diplomasi pemerintahan. Kesinambungan tersebut menjadi penting karena pergantian menteri berlangsung ketika Indonesia menghadapi berbagai dinamika internasional.
Arrmanatha juga menyoroti peran Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di tingkat kawasan maupun global. Berbagai agenda diplomasi yang telah berjalan akan diteruskan sembari menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis internasional. Indonesia tetap memiliki kepentingan memperkuat hubungan bilateral dan multilateral serta berpartisipasi dalam penyelesaian berbagai persoalan global. Arrmanatha menyatakan sejumlah prioritas yang sebelumnya telah dijalankan akan tetap menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai Menlu.
Pergantian tersebut turut mengubah susunan pimpinan Kementerian Luar Negeri. Setelah Arrmanatha naik dari posisi wakil menteri menjadi menteri, jumlah Wakil Menteri Luar Negeri yang tersisa menjadi dua orang. Arrmanatha menyatakan belum memperoleh informasi mengenai kemungkinan penambahan wakil menteri untuk mengisi posisi yang ditinggalkannya. Struktur tersebut akan tetap berjalan sambil menunggu keputusan lebih lanjut dari Presiden mengenai komposisi kementerian.
Cerita Arrmanatha mengenai telepon dari Teddy memperlihatkan cepatnya proses penunjukan dirinya sebagai Menteri Luar Negeri. Dalam hitungan beberapa jam setelah menerima pemberitahuan, ia harus beralih dari posisi wakil menteri menjadi pemimpin kementerian yang selama ini menjadi tempatnya menjalankan tugas diplomasi. Pengalaman panjangnya sebagai diplomat dan keterlibatannya dalam pemerintahan sebelumnya menjadi bekal untuk menjaga kesinambungan kebijakan. Arrmanatha kini memegang tanggung jawab memimpin diplomasi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.