Jakarta, 13 September 2026 – Iran dan Rusia kembali menyuarakan kritik terhadap penggunaan sanksi ekonomi sepihak sebagai instrumen tekanan internasional, bersamaan dengan upaya negara-negara BRICS memperkuat perdagangan, investasi, serta sistem pembayaran lintas batas. Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian pertemuan BRICS di New Delhi, India, ketika negara anggota membahas tantangan ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Iran dan Rusia merupakan dua anggota BRICS yang menghadapi tekanan sanksi besar dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Keduanya menilai pembatasan perdagangan dan keuangan secara sepihak dapat mengganggu arus perdagangan internasional serta menciptakan ketidakpastian bagi negara lain yang memiliki hubungan ekonomi dengan pihak yang dikenai sanksi. Situasi tersebut mendorong pembicaraan mengenai peningkatan transaksi menggunakan mata uang nasional dan pembangunan infrastruktur pembayaran yang mengurangi ketergantungan pada jalur keuangan tertentu. BRICS pun semakin diarahkan menjadi wadah kerja sama ekonomi yang memberikan lebih banyak pilihan bagi negara-negara berkembang.
Presiden Rusia Vladimir Putin mendorong BRICS berkembang dari forum koordinasi menjadi kemitraan ekonomi yang lebih praktis dan mampu menghasilkan proyek konkret. Rusia menginginkan peningkatan kolaborasi pada bidang teknologi, infrastruktur, investasi, perdagangan, serta sistem pembayaran. Putin juga mengkritik kebijakan ekonomi Barat yang menurutnya semakin agresif melalui penerapan sanksi dan berbagai pembatasan perdagangan. Moskow berpandangan kebijakan semacam itu bukan hanya berdampak kepada negara yang menjadi sasaran, tetapi dapat mengganggu rantai perdagangan serta hubungan ekonomi negara ketiga. Karena itu, Rusia mendorong anggota BRICS meningkatkan kemampuan melakukan transaksi dan membangun proyek ekonomi tanpa terlalu bergantung pada infrastruktur keuangan yang berada di bawah pengaruh negara Barat. Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan ekonomi anggota BRICS menghadapi perubahan lingkungan perdagangan global.
Iran menghadapi tekanan ekonomi yang tidak kalah besar setelah Amerika Serikat memperketat kebijakan sanksi dan pembatasan terhadap kegiatan ekonominya. Tekanan tersebut memengaruhi ekspor minyak, akses terhadap mata uang asing, kegiatan impor, hingga stabilitas harga di dalam negeri. Pemerintah Iran menegaskan sanksi tidak seharusnya digunakan untuk memaksakan perubahan kebijakan suatu negara. Teheran pada saat bersamaan mengakui perlunya memperbaiki persoalan ekonomi domestik agar tekanan eksternal tidak semakin membebani masyarakat. Inflasi, pelemahan mata uang, serta persoalan lapangan kerja menjadi sejumlah tantangan yang harus ditangani di tengah situasi geopolitik yang masih tegang. Kondisi tersebut membuat perluasan perdagangan dengan negara yang tetap bersedia mempertahankan hubungan ekonomi menjadi semakin strategis bagi Iran.
Kerja sama dalam BRICS menjadi salah satu jalur yang diharapkan dapat membuka lebih banyak ruang perdagangan bagi Iran maupun Rusia. Anggota kelompok tersebut saat ini terdiri dari sejumlah ekonomi besar dan berkembang yang mempunyai kebutuhan energi, komoditas, teknologi, serta investasi yang berbeda-beda. Perluasan keanggotaan dalam beberapa tahun terakhir juga membuat bobot BRICS dalam perekonomian global semakin besar. Selain Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan sebagai anggota awal, kelompok tersebut kini mencakup Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Dengan komposisi tersebut, BRICS mewakili lebih dari 40 persen populasi dunia dan hampir seperempat produk domestik bruto global. Skala tersebut membuat peningkatan perdagangan antaranggotanya berpotensi memberikan pengaruh lebih besar terhadap pola ekonomi internasional.
Salah satu agenda yang semakin mendapatkan perhatian adalah pengembangan sistem pembayaran lintas batas yang lebih cepat, murah, dan aman. Menteri keuangan dan gubernur bank sentral BRICS mendorong peningkatan interoperabilitas sistem pembayaran sehingga transaksi antarnegara anggota dapat dilakukan secara lebih efisien. Penggunaan mata uang nasional juga terus menjadi bagian dari pembahasan, terutama ketika sejumlah negara ingin mengurangi risiko yang muncul dari ketergantungan terhadap satu mata uang atau jaringan pembayaran tertentu. India turut mendorong kemajuan dalam kemungkinan keterhubungan mata uang digital antarnegara BRICS. Namun, pengembangan sistem tersebut membutuhkan kesepakatan teknis, regulasi, mekanisme penyelesaian transaksi, serta pengelolaan risiko yang kompleks. Karena itu, proses menuju sistem pembayaran BRICS yang benar-benar terintegrasi diperkirakan berlangsung secara bertahap.
Iran melihat perluasan jalur transaksi internasional sebagai kebutuhan penting karena sanksi membatasi aksesnya terhadap sebagian sistem keuangan global. Tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Teheran juga menyasar pihak yang dinilai membantu mempertahankan aktivitas perdagangan Iran. Kondisi tersebut menciptakan risiko tambahan bagi perusahaan maupun lembaga keuangan negara lain yang ingin melakukan transaksi dengan Iran. Dalam situasi demikian, perdagangan menggunakan mata uang nasional atau mekanisme alternatif menjadi semakin menarik bagi Teheran. Iran selama ini juga mempertahankan hubungan perdagangan dengan China dan sejumlah mitra lainnya meskipun menghadapi pembatasan dari Washington. Namun, setiap mekanisme alternatif tetap menghadapi tantangan karena perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan sistem keuangan Amerika Serikat harus mempertimbangkan risiko terkena sanksi sekunder.
Rusia mempunyai kepentingan serupa setelah menghadapi pembatasan ekonomi luas menyusul konflik Ukraina. Moskow telah meningkatkan penggunaan mata uang selain dolar dalam sebagian perdagangan internasional dan memperluas hubungan ekonomi dengan negara-negara Asia. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi menjelang KTT BRICS, Putin kembali menekankan pentingnya peningkatan perdagangan dan investasi. Rusia dan India menargetkan perdagangan bilateral mereka meningkat dari sekitar 70 miliar dolar AS menjadi 100 miliar dolar AS pada 2030. Hubungan energi menjadi salah satu unsur penting karena India tetap membeli minyak Rusia meskipun menghadapi tekanan dari Amerika Serikat. Bagi Moskow, perdagangan dengan India dan negara BRICS lainnya memberikan pasar yang semakin penting di tengah berkurangnya akses terhadap sejumlah pasar Barat.
Pada tingkat kelompok, BRICS juga menyuarakan kekhawatiran terhadap penerapan tarif maupun tindakan perdagangan dan keuangan sepihak yang dianggap menghambat aktivitas ekonomi global. Dalam pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral, anggota mendorong sistem ekonomi internasional yang lebih representatif bagi negara berkembang. Mereka turut menyerukan reformasi terhadap lembaga keuangan pembangunan global agar struktur pengambilan keputusan lebih mencerminkan perubahan bobot ekonomi dunia. Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia menjadi bagian dari institusi yang dinilai perlu terus melakukan reformasi representasi dan tata kelola. BRICS juga memiliki New Development Bank sebagai instrumen pembiayaan proyek pembangunan dan infrastruktur. Bank tersebut telah membiayai proyek dengan nilai kumulatif hampir 43 miliar dolar AS sejak didirikan.
Meski memiliki kepentingan bersama dalam memperluas kerja sama ekonomi, BRICS tetap menghadapi tantangan karena setiap anggota mempunyai hubungan politik, perdagangan, dan keamanan yang berbeda. Sebagian negara memiliki hubungan strategis dekat dengan Amerika Serikat maupun Eropa, sementara negara lain seperti Rusia dan Iran menghadapi konfrontasi serta sanksi ekonomi dari Barat. Perbedaan tersebut membuat BRICS tidak selalu memiliki pandangan identik terhadap setiap persoalan internasional. Ketegangan di Timur Tengah bahkan menjadi salah satu ujian terhadap kemampuan kelompok mencapai konsensus karena Iran dan Uni Emirat Arab mempunyai kepentingan yang berbeda dalam konflik kawasan. Meski demikian, deklarasi bersama KTT New Delhi tetap berhasil disepakati dengan menekankan diplomasi, perlindungan warga sipil, penghormatan terhadap kedaulatan, serta pentingnya menjaga perdagangan dan jalur energi global.
Penguatan perdagangan dan sistem pembayaran BRICS pada akhirnya menjadi bagian dari perubahan lebih luas dalam struktur ekonomi dunia. Iran dan Rusia melihat kerja sama tersebut sebagai peluang memperkecil dampak sanksi serta mempertahankan akses terhadap perdagangan internasional, sementara anggota lainnya memiliki kepentingan untuk memperluas pasar, investasi, dan pilihan pembayaran. Namun, pengembangan mekanisme alternatif tidak serta-merta menghilangkan dominasi dolar AS maupun ketergantungan terhadap sistem keuangan yang telah digunakan selama puluhan tahun. BRICS masih harus menyelesaikan berbagai persoalan teknis, perbedaan kepentingan ekonomi, serta hubungan geopolitik antaranggotanya sebelum integrasi yang lebih dalam dapat diwujudkan. Meski demikian, pertemuan di New Delhi memperlihatkan adanya dorongan yang semakin kuat untuk memperluas penggunaan mata uang nasional dan meningkatkan konektivitas sistem pembayaran. Bagi Iran dan Rusia, perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari strategi menghadapi tekanan sanksi sekaligus memperbesar perdagangan dengan negara-negara BRICS.