Purwokerto, 7 September 2026 – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Banyumas Raya melalui penyelenggaraan Semarak Festival Ekonomi Syariah Eks Keresidenan Banyumas (SELARAS) dan Festival Literasi 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 4–6 September 2026 di Area Kolam Retensi Purwokerto tersebut menjadi wadah kolaborasi pemerintah daerah, pelaku usaha, pesantren, lembaga keuangan, akademisi, komunitas, dan masyarakat. SELARAS tahun ini mengusung tema sinergi dan transformasi digital ekonomi serta keuangan syariah untuk mengakselerasi perekonomian Banyumas Raya yang berkelanjutan. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan transaksi, tetapi juga memperkuat ekosistem halal, akses pembiayaan, literasi, serta kapasitas pelaku usaha. Banyumas Raya yang menjadi wilayah kerja KPwBI Purwokerto mencakup Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Kolaborasi antardaerah tersebut diharapkan membuat pengembangan ekonomi syariah memiliki dampak yang semakin luas.
Kepala KPwBI Purwokerto Aswin Gantina mengatakan SELARAS merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di daerah. Penyelenggaraan pada 2026 mempunyai pendekatan berbeda karena disinergikan dengan Festival Literasi. Penggabungan kedua agenda tersebut membawa pesan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Literasi menjadi faktor penting agar masyarakat tidak hanya mengenal produk ekonomi dan keuangan syariah, tetapi juga memahami manfaat serta mekanismenya. Penguatan pengetahuan tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menentukan produk maupun layanan keuangan sesuai kebutuhan. Pada saat bersamaan, pelaku UMKM memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitas dan memperluas jaringan bisnisnya.
SELARAS dan Festival Literasi 2026 melibatkan 75 pelaku usaha syariah atau UMKM serta 29 pondok pesantren dari wilayah Banyumas Raya. Produk yang ditampilkan beragam, mulai dari makanan dan minuman, fesyen, kriya, ekonomi kreatif, hingga berbagai produk unggulan daerah lainnya. Kegiatan tersebut menjadi ruang promosi sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon konsumen dan mitra bisnis. Bank Indonesia mendorong peserta menggunakan QRIS dalam transaksi agar pembayaran digital semakin luas digunakan oleh UMKM. Penggunaan QRIS juga memungkinkan aktivitas transaksi selama festival tercatat dengan lebih baik. Pada penutupan kegiatan, nilai transaksi penjualan selama rangkaian SELARAS 2026 tercatat mencapai sekitar Rp1,29 miliar. Capaian tersebut menunjukkan festival tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi, tetapi juga menghasilkan aktivitas ekonomi langsung bagi peserta.
Bank Indonesia menegaskan keberhasilan pengembangan ekonomi syariah tidak semata-mata diukur berdasarkan besarnya transaksi. Tingkat keterlibatan masyarakat, inklusivitas pelaku usaha, perluasan akses pembiayaan, dan penguatan rantai nilai halal juga menjadi indikator penting. Ekonomi syariah dipandang sebagai sistem yang mengedepankan nilai keadilan, transparansi, dan keseimbangan sehingga penerapannya dapat menjangkau masyarakat secara luas. Pendekatan tersebut membuat pengembangan ekonomi syariah tidak terbatas pada satu jenis usaha maupun kelompok tertentu. Pelaku UMKM konvensional juga dapat mengembangkan produknya agar memenuhi standar halal dan memperoleh akses terhadap pasar yang lebih luas. Dengan semakin banyak pelaku usaha terhubung dalam ekosistem tersebut, aktivitas ekonomi lokal diharapkan ikut meningkat.
Potensi pengembangan ekonomi syariah juga terlihat dari pertumbuhan halal value chain secara nasional. Pada 2025, sektor halal value chain Indonesia tercatat tumbuh sekitar 6,21 persen secara tahunan. Indeks literasi ekonomi dan keuangan syariah juga meningkat menjadi 50,18 persen dari sebelumnya 42,84 persen. Meski demikian, tingkat inklusi ekonomi dan keuangan syariah masih berada di kisaran 16,95 persen. Perbedaan cukup besar antara tingkat literasi dan inklusi menunjukkan masih terdapat ruang untuk memperluas penggunaan produk maupun layanan syariah oleh masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan ekonomi syariah perlu dilengkapi dengan akses yang lebih mudah terhadap pembiayaan, pasar, dan layanan keuangan. SELARAS menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan berbagai unsur yang diperlukan dalam penguatan ekosistem tersebut.
Di Banyumas Raya, pengembangan rantai nilai halal dilakukan melalui pendampingan pelaku usaha dan penguatan jaminan produk halal. Hingga 2026, KPwBI Purwokerto telah memfasilitasi 19 pelaku usaha syariah dalam berbagai program pengembangan. Sebanyak 29 pesantren juga telah tergabung dalam jaringan ekonomi dan bisnis pesantren Banyumas Raya. Penguatan jaminan produk halal menghasilkan sertifikasi bagi 18 rumah potong hewan atau rumah potong unggas, 26 juru sembelih halal, serta 78 penyelia dan pendamping proses produk halal. Infrastruktur tersebut diperlukan untuk memastikan rantai produksi halal dapat diterapkan sejak bahan baku hingga produk sampai kepada konsumen. Semakin kuat ekosistem pendukungnya, semakin mudah pula UMKM memenuhi standar yang dibutuhkan untuk memasuki pasar halal.
Akses pembiayaan menjadi bagian lain yang diperkuat dalam rangkaian SELARAS 2026. Bank Indonesia mempertemukan pelaku UMKM dan usaha syariah dengan perbankan maupun lembaga keuangan melalui kegiatan business matching. Nilai business matching pembiayaan syariah tercatat mencapai sekitar Rp500 juta. Pertemuan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memperoleh pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas produk, maupun memperluas pasar. Selain pembiayaan komersial, pengembangan ekonomi sosial syariah melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf juga mendapatkan ruang dalam kegiatan tersebut. Integrasi sektor komersial dan sosial diharapkan dapat memperkuat fondasi ekonomi masyarakat secara lebih merata.
SELARAS 2026 juga menjadi momentum pengembangan pariwisata ramah Muslim di Banyumas Raya. Program tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan label destinasi, tetapi diarahkan pada penyediaan layanan yang memberikan kepastian dan kenyamanan bagi wisatawan. Informasi mengenai kehalalan makanan, keberadaan fasilitas ibadah, kebersihan, serta kualitas pelayanan menjadi beberapa unsur yang dapat diperkuat. Dalam rangkaian kegiatan juga dilakukan peluncuran Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat di Pujasera UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto serta Z-Corner Banyumas Kota Lama. Pengembangan kawasan kuliner tersebut diharapkan menjadi contoh penerapan ekosistem halal pada sektor makanan dan pariwisata. Potensi wisata Banyumas Raya dengan demikian dapat dihubungkan dengan pertumbuhan UMKM dan industri halal lokal.
Integrasi dengan Festival Literasi membuat kegiatan tahun ini memiliki cakupan edukasi yang lebih luas. Berbagai agenda digelar, mulai dari edukasi ekonomi syariah, forum diskusi, seminar pembiayaan, bazar buku, bedah buku, festival kuliner halal, hingga ruang edukasi kebanksentralan. Program Piwulang.id turut diperkenalkan sebagai portal edukasi dan pembelajaran kebanksentralan. Kegiatan juga melibatkan perguruan tinggi, lembaga keuangan, komunitas, pesantren, serta berbagai institusi yang mempunyai peran dalam peningkatan literasi masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan membuat masyarakat tidak hanya menjadi konsumen dalam kegiatan ekonomi, tetapi mempunyai pemahaman yang memadai mengenai layanan keuangan dan perkembangan ekonomi. Literasi yang lebih baik juga diperlukan agar perluasan digitalisasi berlangsung secara aman dan produktif.
Melalui SELARAS 2026, Bank Indonesia menempatkan kolaborasi sebagai fondasi utama untuk memperkuat ekonomi syariah Banyumas Raya. Pemerintah daerah, perbankan, perguruan tinggi, pesantren, UMKM, komunitas, dan masyarakat mempunyai peran berbeda yang perlu dihubungkan dalam satu ekosistem. Capaian transaksi sekitar Rp1,29 miliar selama festival menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi yang tercipta, sementara business matching, sertifikasi halal, pengembangan pesantren, digitalisasi pembayaran, dan peningkatan literasi memberikan dampak yang bersifat lebih jangka panjang. SELARAS juga menjadi bagian dari rangkaian pengembangan ekonomi syariah menuju Festival Ekonomi Syariah Jawa Tengah dan Indonesia Sharia Economic Festival. Pengembangan berikutnya diarahkan agar UMKM semakin kompetitif, memperoleh akses pembiayaan dan pasar lebih luas, serta mampu memanfaatkan teknologi digital. Dengan penguatan yang berkelanjutan, ekonomi dan keuangan syariah diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru yang inklusif bagi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.